02.30

Dialog Kehidupan


Sang Cucu:

Kakek…Untuk apa Tuhan menghadirkanku di dunia ini?

Sang Kakek

Tuhan telah mengajarimu segala sesuatu. Segalanya telah tertulis di dalam dirimu. Sebelum kau datang kemari, Dia berkata kepadamu, “Aku mengirimmu ke sekolah bernama dunia. Ia hanyalah tempat sementara. Kau harus pergi ke sana untuk sementara waktu untuk belajar mengenai sejarah-Ku, sejarahmu, dan sejarah lainnya. Kau harus mengerti siapa yang menciptakan segala sesuatu, siapa yang bertanggungjawab terhadap segala sesuatu, siapa Penjaga yang menjaga dirimu, dan apa milikmu yang sesungguhnya. Ketika kau telah belajar dan mengerti semua sejarah-sejarah ini, kau akan menyadari siapa dirimu dan siapakah Dia yang kau butuhkan, Sang Kebenaran, Dia Yang Maha Hidup.”

“Setelah kau mempelajari hal-hal ini semua, kau harus melewati suatu ujian. Lalu kau bisa membawa apa yang menjadi milikmu dan kembali ke sini. Tapi pertama, pergilah ke sekolah dan belajar. Lalu kembalilah.”

Tuhan mengatakan ini kepadamu dan kemudian mengirimmu ke sini. Sekarang adalah tugasmu untuk menemukan-Nya, untuk mengenal dirimu, dan untuk mengetahui apa kekayaanmu yang sejati. Itulah mengapa kau harus datang kemari. Maka, jadikan kebijaksanaanmu sebagai gunting dan periksalah milikmu dengan baik, potonglah apa-apa yang buruk. Dia telah memberikan segalanya kepadamu, tetapi kau harus memotong semua gambar yang kau ambil dengan kamera fotomu sendiri dan simpanlah hanya rol yang baik, itulah yang kau bawa menuju Penjagamu. Sambungkan semuanya dan singkirkan hal lainnya.

22.38


Refleksi I
MANUSIA DAN MASALAH

Manusia dan masalah adalah ibarat dua mata uang yang tidak mungkin terpisahkan. Keduanya saling mengkait, hingga tanpa adanya salah satu bagian keberadaannya tidaklah sempurna. Sebab adanya kaitan yang sangat erat itu pula manusia menjadi makhluk yang unik yang sanggup melampaui eksistensi kesempurnaan jika dibanding keberadaan makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
Dalam tradisi filsafat, manusia dengan segudang masalahnya menjadi obyek material tersendiri yang takkan pernah usai semenjak awal mula soktares mengkampanyekan “Sapare Aude”sebagai perlawanan atas tradisi yunani yang didominasi oleh dunia mitologi, sampai upaya proses mancarian kesadaran eksistensi manusia ala Cartesian “Ego Cogito Ergo Sum” . entah sampai kapan pencarian kemanusiaan ini akan berakhir, sudah tentu tidak akan pernah jelas ujung akhirnya.
Pasalnya dengan berakhirnya kajian manusia dan masalahnya berarti menandakan habislan riwayat sejarah. Sejarah selalu muncul sebagai respon manusia atas berbagai realitas yang tengah dihadapi pada zamannya. Realitas itulah sejatinya masalah, baik dalam kapasitas perdebatan empiric maupun rasionalistik.
Adapun dalam setiap diri individu, tidak lah sama masalah yang dihadapi. Antara manusia yang satu dengan manusia yang lain masing-masin mempunyai keunikan dan porsinya sendiri-sendiri. Ada yang secara substansial sama, namun tetap ada sisi-sisi yang berbeda. Hal ini sanat ditentukan secara actual bagaimana manusia memandang yang secara substansial sebetulnya sama tadi. Perbedaan cara pandang[i] terhadap masalah inilah yang menunjukkan secara hakiki bahwa tingkat kesadaran, histories, dan ruang lingkup pengalaman pada setiap manusia berbeda.
Pada satu waktu sebuah masalah dapat dihadapi seseorang tanpa menimbulkan konlik yan berkepanjangan. Sdangkan pada waktu yang lain dengan masalah yang sama seseorang justeru berkelindan tak mampu lepas dari putaran konflik masalah tersebut.
Hal sama juga sering mungkin terjadi terjadi antara dua orang yang menghadapi masalah yang sama dalam satu waktu tertentu. Kedua orang itu dapat saja berasal dari keluarga yag sama, atau kembar denan tinkat pendidikan dan kebiasaan sama pula. Namun kenapa terjadi pendekatan yang berbeda antara kedua orang tersebut untuk sebuah masalah yang sama.
Demikianlah, bahwa sebuah pendekatan “Solusi konflik/problem solving” tidak dapat diterapkan sepenuhnya dalam masalah yang sama dengan waktu yan berbeda, atau masalah yang sama dalam wilayah sejarah berbeda, masalah yang berbeda dalam waktu yang sama, terlebih lagi digunakan dalam mesalah berbea dalam waktu yan berbea pula.
Factor kesadaran “Suprastruktur” yang didalamnya terkandung nilai-nilai, ilmu pengetahuan, kemampuan abstraksi seseorang, dan factor histories “Struktur” yang didalamnya meliputi norma-norma, lembaga agama, adapt kebiasaan, dan berbaai hal yan turut membangun penglaman manusia, memiliki peran sangat dominant dalam usaha manusia dalam mendekati sebuah masalah. Justeru antara manusia dan masalahnya merupakan pengejawantahan dari kedua factor tersebut, dimana manusia mewakili forma actual factor histories “Struktur”, sedangkan masalah mewakili forma potensial factor kesadaran “Suprastruktur”.
Pertanyaan yang kerap muncul dari kedua factor tersebut adalah sejauh mana keuanya saling memengaruhi. Apakah struktur yang menentukan suprastruktur atau-kah sebaliknya. Apakah keduanya secara integrative saling mengakait, atau-kah kontradiktif.
Sejauh ini yang banyak melakukan kajian antara kedua factor tersebut adalah kalangan pemikir marxis. Dengan berbagai tingkat variasinya pembicaraan mengenai hubungan antara manusia dan system nilai, pikiran dan symbol mula-mula didorong oleh pemikiran marx mengenai struktur dan superstruktur masih sangat berpengaruh kuat di kalangan para pemikir marxis, yang juga kemudian berpengaruh juga pada pemikir non-marxis.
Hubungan itu kmudian dipertegas oleh generasi Marxian bernama Georg Lukacs yang mencoba meneliti interaksi antara perkembangan ekonomi dan social dengan pandangan dan bentuk artistic yang dilahirkannya. Pembahasannya yang menjadikan novel sejarah sebagai obyek kajian tersbut berkesimpulan bahwa secara deterministic kondisi social-ekonomi berpengaruh secara langsung pada nilai dan bangunan pemikiran manusia. Dalam arti bahwa struktur-lah yang sangat mempengaruhi superstruktur. Teori ini sampai sekarang tetap menjadi trade-mark pemikiran penganut Marxian, meskipun teori ini pada awalnya pernah dibantah juga oleh Engels. Bagi Engels ada varian lain yang juga mempengaruhi kesadaran disamping struktur tersebut.
Terkait pembahasan awal dengan mencoba menggunakan kerangka teori interaksi antara kesadaran dan histories “manusia dan masalahnya” dapat dikembangkan pertanyaan baru apakah dengan adanya manusia maka masalah lalu menjadi ada, atau sebaliknya justeru dengan munculnya masalah, manusia kian sampai pada ksempurnaan eksistensinya. Kedua pertanyaan ini tentu saja tidak dengan mudah dapat terjawab begitu saja.
Dalam tradisi islam misalnya, kedua keranka ini memiliki nalar tekstualnya masing-masing. Satu sisi disebutkan bahwa dalam proses penciptaan manusia, ruh “akal” yang secara potensial menjadi sumber lahirnya masalah lebih dahulu diciptakan sebelum manusia secara sempurna terbentuk. Sementara di sisi yang lain, tatkala manusia dilahirkan pada awalnya dia tidak dapat mengetahui apa-apa, lalu Tuhan-lah yang memberikan pengtahuan padanya sehingga manusia menjadi tahu realitas diluar dirinya. Sisi kdua ini banyak berkembang dalam tradisi masyarakat dimana jika ada bayi yang masih berumur 1 sampai 5 bulan, dimana indra mereka belum dapat berungsi, bergumam, tertawa atau seolah nampak seperti bercanda sendiri, diyakini oleh sebagian masyarakat bahwa dia sesungguhnya telah bercanda dengan malaikat penjaganya. Melalui dialog itulah mula-mula Tuhan melakukan transformasi pengetahuan pada anak manusia.
Malihat bahwa adanya kaitan yang sangat erat antara manusia dengan masalahnya, serta adanya factor keadaan dan histories yang sangat berperan penting tarhadap pendekatan manusia dalam menyelesaikan madsalahnya, maka sebetulnya memaksakan suatu “problem-solving” atas masalah yang sama dalam waktu yang sama, apalagi adanya berbagai varian perbedaan antara masalah dengan ruang dan waktunya jelas sesuatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara ilmiah.
Namun demikian berbagai pendekatan yang—secara kebetulan tepat—mampu menyelesaikan masalah bukan tidak penting sama sekali. Kepentingan itu tentulah sebatas sebagai referensi. Sebab dengan berbagai referensi yang secara kebetulan mampu menyelesaikan masalah, maka pola pemetaan masalah semaksimal munkin dapat dilakukan. Tapi angapan bahwa pendekatan tertentu adalah yan paling tepat untuk kasus ini dan itu jelaslah—sekali lagi—tidak dapat dibenarkan.
Sebagai bangsa dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, tentulah setiap masalah yang mendera bangsa ini memiliki kerangka bangun dan akar struktur tersendiri. Dan tentu saja akar struktur yang membentuk masalah bangsa ini sangat berkaitan dengan factor budaya, sejarah, lingkuan dan suasana politik-sosial yang terjadi. Maka sudah seharusnya para petinggi bangsa “penguasa negara” memberikan porsi yang lebih besar terhadap berbagai hasil kajian dan penelitian sejarah, sosiologis, maupun antropologis yang banyak menumpuk di perpustakaan yang memberikan perhatian khusus terhadap akar budaya Indonesia.Jika ingin masalah bangsa ini cepat teratasi, jangan dong import terus-terusan pendekatan dan karya-karya bangsa asing, sebab selain pemborosan anggaran juga sudah pasti tidak akan tepat jika diterapkan di Indonesia
[i] Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn untuk menjelaskan teorinya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi secara revolusioner. Menurut khun setiap teori akan berhadapan dengan masa ketakberlakuan yang dimulai dengan terjadinya anomali, yakni ketika berbagai realitas tidak lagi mampu terjelaskan. Teoti ini kemudian mengalami masa kritis yang selanjutnya menimbulkan pergeseran paradigma (Shifting Paradigm) dan memunculkan paradigma baru. Sementara paradigma menurut Robert Fiedrichs, adalah pandangan mendasar suatu disiplin ilmu mengenai apa yang menjadi pokok persoalan. Selanjutnya menurut Kuhn ada tiga tingkatan paradigma; pertama, paradigma metafisik, yakni suatu pandangan menganai pokok persoalan tertentu yang menjadi pusat perhatian komunitas ilmuan. Kedua, paradigma sosialogis, yakni pola kehidupan sebagai realisasi dari suatu teori. Ketiga paradigma konstrak, yakni seatu pandangan yang dipergunakan untuk menunjuk suatu aktivitas teknologis dari suatu ilmu. Keterangan lebih lanjuyt lihat Abdul Munir Mulkan, Paradigma Intelektual Muslim (Yogyakarta: Sipress,1993), hlm. 13-16. Selanjutnya pandangan dunia (cara pandang) adalah sebuah perenungan kefilsafatan dengan berusaha memahami segenap kenyataan dengan jalan menyusun suatu pandangan dunia (Weltanschaung) yang memberikan keterangan tentang dunia dan semua hal yang ada didalamnya. Lihat dalam Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, alih bahasa Soejono Soemargono, cet.IV (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989) hlm. 12 – 13.

22.10

Bermotor ke Jogja
Aku tak izi lebih dulu sama bapak dan emakku jika kemarin aku berangkat ke jogja naik sepeda motor. Sebab aku tidak ingin mereka akan semakin berat memikirkan keberangkatanku ke jogja. Jangankan naik motor, naik bis saja mereka khawatir bukan main. Mungkin dari berita-berita kecelakaan di TV itulah mererka selalu membayangkan yang tidak-tidak setiap keli aku pergi dan pulang. Aku heran untuk urusan yang satu ini mengapa mereka toidak sepenuhnya percaya pada kebesaran Allah, na’udzu Billah, mudah-mudahan kehawatiran mereka masih sebatas kewajaran sebagaimana layaknya orang tua pada anaknya.
Begitu banyak pengalaman baru yang aku dapat sepanjang perjalanan sebab selain baru pertama kali ini aku ke jogja dari rumah naik sepeda motor, aku juga tidak ditemani oleh sispapun. Sendirian. Hujan sepanjang perjalanan diatas motor dari lamongan sampai jogja. Serukan…
Awalnya aku ragu saat ditawarti temanku untuk membawakan motornya ke jogja. Sebab dia tidak mungkin membawanya kesana. Jelas tidak berani seorang perempuan sendirian naik morot sejauh itu. Sedang adiknya yang laki-laki sudah lebih dulu berangkat ke jogja sebelum orang tuanya memberikan motor baru. Setelah aku pikir-pikir dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ku beranikan diri mengiyakan membawa motornya ke jogja. Lumayan cari pengalaman baru, disamping juga mengobati keinginanku untuk bermotor ke jogja. Maka malam harinya aku segera mencari teman boncengan yang bisa aku ajak naik motor ke jogja, namun ternyata teman-teman yang aku temui dirumahnya sedah pada berangkat lebih dulu ke jogja. Akhirnya dengan kondisi jiwa yang ragu karena baru pertama kali, sekaligus belum hafal betul jalannya, aku memberanikan diri juga membawa motornya ke jogja.
Indah betul perjalanan. Naik motor adalah sesuatu yang pernah aku idam-idamkan selama ini. Terbuka, santai, dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan juga dapat berhenti sewaktu-waktu jika ingin beristirahat, sebab capek atau apalah yang jelas jauh lebih nyaman dari naik bis atau kendaraan yang lain. Hanya saja dari segi keamanan sudah tentu naik motor jauh lebih beresiko dari naik yang lain. Belum lagi jika rasa mengantuk datang. Bahaya, sebab bisa-bisa motor yang di kendarai tidak menentu arahnya, oleng atau bahkan kecelakaan.
Keluar dari Ngawi aku sempat dikagetkan oleh bis yang dengan angkuhnya melintas tepat di sampingku dengan kecepatan yang aku lawan. Untunglah aku masih sanggup mengendalikan diri hingga tidak terseret arus angin yang berasal dari kecepatan laju bis. Lebih sial lagi, pada saat sampai di Solo, dalam kondisi hujan yang teramat lebat, aku tersesat di jalur kota solo. Hampir satu jam aku di sana. Berputar-putar, tak tahu arah, binggung, hujan. Sebentar aku bertanya, namun beberapa saat setelah aku berjalan sampai lagi di tempat semula. Bolak-balik disana, tak juga kunjung sanggup keluar. Lama aku mencari papan jalur yang menunjukkan arah ke jogja, namun jarang sekali aku jumpai. Kalaupun ada di satu perempatan tertentu, begitu sampai pada perempatan berikutnya papan jalur itu sudah tidak ada lagi. Akhirnya dengan spekulasi saja aku mengambil arah ke jogja. Kalau ingin ke kiri, ya..aku turuti ke kiri, jika menginginkan ke kanan ya…aku ikuti kekanan. Sempat di depan Novotel, entah di sebelah nama kota solo, hampir tiga kali aku mengitarinya. Mau berhenti untuk nanya, sudah kepalang basah. Malas…
Awal kejadiannya kenapa sampai aku tersesat tidak sanggup keluar adalah beberapa saat sesudah aku melewati jalan di bawah lintasan kereta, tiba-tiba saja diperempatan sambil diguuur hujan yang demikian derasnya, sebuah bis kota dalam kondisi yang begitu padat melintas ditengah-tengah perempatan sampai membuat macet menutup jalan dari keempat arahnya. Lama aku menunggu mencari sela untuk melaju lurus ke arah jogja, namun semakin lama kemacetan itu tidak juga berkurang, malah berberapa orang sempat marah dan mengomel-omel bis yang bikin macet. Maka dengan pertimbangan waktu, sebab suasana hari yang dingin dan tidak kondusif, mamilih untuk mengambil arah kiri yang itu berarti aku mesuk lebih jauh ke arah kota. Nah dari sanalah aku sepenuhnya kehilangan jalan dan jalur jogja yang biasa aku lihat dan amati dari pengalamanku naik bis selama ini.
Untungnya setelah sekian lama tersesat di dalam kota solo, aku menekukan mobil dengan plat AB (plat Jogja) yang kebetulan melintas di depanku. Dengan segera akupun mengejarnya. E…nggak taunya mobil itu belok kiri, lalu berhenti di depan sebuah toko pakaian. Aduh… Aku tak peduli, aku terus melaju ke depan. Dalam kondisi kepepet orang kebanyakan mengingat Tuhan, demikian halnya aku. Sepanjang perjalanan selalu aku menyebut nama-Nya. Apalagi pada saat sebuah mobil yang hampir-hampir saja menabrakku dari arah kanan. Astagfirullah,….alhamdulillah…aku masih selamat…
Dalam kekhawatiran jangan-jangan jalan yang ku lewati justeru berbalik ke arah sragen, aku terus melarikan motor dengan kecepatan….entahlah berapa sebab spidometernya mati, tapi rasanya kecepatan itu pastilah diatas 80 km/jam. Antara yakin dan khawatir aku memastikan diri bahwa jalan yang aku lalui adalah arah ke jogja. Lega rasanya saat dengan tidak sengaja aku melihat nama Sukoharjo terpampang di etalase sebuah toko, yang itu berarti aku telah keluar dari solo. Alhamdulillah….. “Selamat datang di Kab. Klaten” ucapan selamat datang itu benar-benar membuatku bersemangat melanjutkan perjalanan. Aku sukses. Akhirnya sampai juga aku di jogja naik motor. Tapi aku tetap tidak ingin terlalu terlena dalam kegembiraan sebab sekalipun aku sudah tidak tersesat, perjalanan dari klaten ke jogja masih cukup jauh. Jangan sampai semakin dekat dengan jogja aku semakin dekat dengan maut. Tuhjan memang yang mengusai segala hidup dan mati manusia, tapi aku tetap harus berusaha. Aku melaju dalam kondisi kehati-hatian.
Kota klaten telah lewat. Prambanan. Dan akhirnya sekitar jam tiga sore sampai juga aku di jogja dalam keadaan menggigil karena sepanjang hari bergelut dengan hujan juga saat sampai di jogja.
Alhamdulillah…..

00.21

semalat datang

inilah kampung
dunia maya
dunia tak berwujud
penuh angkara dan saling bertaut

inilah kampungku
dunia maya
dunia tak berwujud

hanya meta hati
yang mampu menggapai
damai dalam dunia maya kampungku

  • Blog Templates
  • Hit Lirik
  • Good Image
  • collection Lyric
  • Free Wallpapers
  • Top Articels
  • celluler
  • printer driver
  • Hotel VIP
  • collection car
  • study net
  • Buy Home
  • Rider