Bermotor ke Jogja
Aku tak izi lebih dulu sama bapak dan emakku jika kemarin aku berangkat ke jogja naik sepeda motor. Sebab aku tidak ingin mereka akan semakin berat memikirkan keberangkatanku ke jogja. Jangankan naik motor, naik bis saja mereka khawatir bukan main. Mungkin dari berita-berita kecelakaan di TV itulah mererka selalu membayangkan yang tidak-tidak setiap keli aku pergi dan pulang. Aku heran untuk urusan yang satu ini mengapa mereka toidak sepenuhnya percaya pada kebesaran Allah, na’udzu Billah, mudah-mudahan kehawatiran mereka masih sebatas kewajaran sebagaimana layaknya orang tua pada anaknya.
Begitu banyak pengalaman baru yang aku dapat sepanjang perjalanan sebab selain baru pertama kali ini aku ke jogja dari rumah naik sepeda motor, aku juga tidak ditemani oleh sispapun. Sendirian. Hujan sepanjang perjalanan diatas motor dari lamongan sampai jogja. Serukan…
Awalnya aku ragu saat ditawarti temanku untuk membawakan motornya ke jogja. Sebab dia tidak mungkin membawanya kesana. Jelas tidak berani seorang perempuan sendirian naik morot sejauh itu. Sedang adiknya yang laki-laki sudah lebih dulu berangkat ke jogja sebelum orang tuanya memberikan motor baru. Setelah aku pikir-pikir dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ku beranikan diri mengiyakan membawa motornya ke jogja. Lumayan cari pengalaman baru, disamping juga mengobati keinginanku untuk bermotor ke jogja. Maka malam harinya aku segera mencari teman boncengan yang bisa aku ajak naik motor ke jogja, namun ternyata teman-teman yang aku temui dirumahnya sedah pada berangkat lebih dulu ke jogja. Akhirnya dengan kondisi jiwa yang ragu karena baru pertama kali, sekaligus belum hafal betul jalannya, aku memberanikan diri juga membawa motornya ke jogja.
Indah betul perjalanan. Naik motor adalah sesuatu yang pernah aku idam-idamkan selama ini. Terbuka, santai, dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan juga dapat berhenti sewaktu-waktu jika ingin beristirahat, sebab capek atau apalah yang jelas jauh lebih nyaman dari naik bis atau kendaraan yang lain. Hanya saja dari segi keamanan sudah tentu naik motor jauh lebih beresiko dari naik yang lain. Belum lagi jika rasa mengantuk datang. Bahaya, sebab bisa-bisa motor yang di kendarai tidak menentu arahnya, oleng atau bahkan kecelakaan.
Keluar dari Ngawi aku sempat dikagetkan oleh bis yang dengan angkuhnya melintas tepat di sampingku dengan kecepatan yang aku lawan. Untunglah aku masih sanggup mengendalikan diri hingga tidak terseret arus angin yang berasal dari kecepatan laju bis. Lebih sial lagi, pada saat sampai di Solo, dalam kondisi hujan yang teramat lebat, aku tersesat di jalur kota solo. Hampir satu jam aku di sana. Berputar-putar, tak tahu arah, binggung, hujan. Sebentar aku bertanya, namun beberapa saat setelah aku berjalan sampai lagi di tempat semula. Bolak-balik disana, tak juga kunjung sanggup keluar. Lama aku mencari papan jalur yang menunjukkan arah ke jogja, namun jarang sekali aku jumpai. Kalaupun ada di satu perempatan tertentu, begitu sampai pada perempatan berikutnya papan jalur itu sudah tidak ada lagi. Akhirnya dengan spekulasi saja aku mengambil arah ke jogja. Kalau ingin ke kiri, ya..aku turuti ke kiri, jika menginginkan ke kanan ya…aku ikuti kekanan. Sempat di depan Novotel, entah di sebelah nama kota solo, hampir tiga kali aku mengitarinya. Mau berhenti untuk nanya, sudah kepalang basah. Malas…
Awal kejadiannya kenapa sampai aku tersesat tidak sanggup keluar adalah beberapa saat sesudah aku melewati jalan di bawah lintasan kereta, tiba-tiba saja diperempatan sambil diguuur hujan yang demikian derasnya, sebuah bis kota dalam kondisi yang begitu padat melintas ditengah-tengah perempatan sampai membuat macet menutup jalan dari keempat arahnya. Lama aku menunggu mencari sela untuk melaju lurus ke arah jogja, namun semakin lama kemacetan itu tidak juga berkurang, malah berberapa orang sempat marah dan mengomel-omel bis yang bikin macet. Maka dengan pertimbangan waktu, sebab suasana hari yang dingin dan tidak kondusif, mamilih untuk mengambil arah kiri yang itu berarti aku mesuk lebih jauh ke arah kota. Nah dari sanalah aku sepenuhnya kehilangan jalan dan jalur jogja yang biasa aku lihat dan amati dari pengalamanku naik bis selama ini.
Untungnya setelah sekian lama tersesat di dalam kota solo, aku menekukan mobil dengan plat AB (plat Jogja) yang kebetulan melintas di depanku. Dengan segera akupun mengejarnya. E…nggak taunya mobil itu belok kiri, lalu berhenti di depan sebuah toko pakaian. Aduh… Aku tak peduli, aku terus melaju ke depan. Dalam kondisi kepepet orang kebanyakan mengingat Tuhan, demikian halnya aku. Sepanjang perjalanan selalu aku menyebut nama-Nya. Apalagi pada saat sebuah mobil yang hampir-hampir saja menabrakku dari arah kanan. Astagfirullah,….alhamdulillah…aku masih selamat…
Dalam kekhawatiran jangan-jangan jalan yang ku lewati justeru berbalik ke arah sragen, aku terus melarikan motor dengan kecepatan….entahlah berapa sebab spidometernya mati, tapi rasanya kecepatan itu pastilah diatas 80 km/jam. Antara yakin dan khawatir aku memastikan diri bahwa jalan yang aku lalui adalah arah ke jogja. Lega rasanya saat dengan tidak sengaja aku melihat nama Sukoharjo terpampang di etalase sebuah toko, yang itu berarti aku telah keluar dari solo. Alhamdulillah….. “Selamat datang di Kab. Klaten” ucapan selamat datang itu benar-benar membuatku bersemangat melanjutkan perjalanan. Aku sukses. Akhirnya sampai juga aku di jogja naik motor. Tapi aku tetap tidak ingin terlalu terlena dalam kegembiraan sebab sekalipun aku sudah tidak tersesat, perjalanan dari klaten ke jogja masih cukup jauh. Jangan sampai semakin dekat dengan jogja aku semakin dekat dengan maut. Tuhjan memang yang mengusai segala hidup dan mati manusia, tapi aku tetap harus berusaha. Aku melaju dalam kondisi kehati-hatian.
Kota klaten telah lewat. Prambanan. Dan akhirnya sekitar jam tiga sore sampai juga aku di jogja dalam keadaan menggigil karena sepanjang hari bergelut dengan hujan juga saat sampai di jogja.
Alhamdulillah…..
damai...damai...damai
22.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


1 komentar:
aduhh mas... makanya kalau ke jogja ngajak-ngajak.. biar ga sesat.
Roni-Sampit
Posting Komentar